Kreativitas A6 wika

KONSEP KREATIVITAS

Dewa Arwidiana

PENDAHULUAN
Pengertian Kreativitas
Kreativitas adalah kemampuan untuk membuat kombinasi baru, berdasarkan data, informasi, atau unsur-unsur yang ada. Dalam hal ini, Munandar mengartikan bahwa kreativitas sesungguhnya tidak perlu menciptakan hal-hal yang baru, tetapi merupakan gabungan (kombinasi) dari hal-hal yang sudah ada sebelumnya. Sedangkan yang dimaksud dengan data, informasi, atau unsur-unsur yang ada, dalam arti sudah ada atau sudah dikenal sebelumnya, adalah semua pengalaman yang telah diperoleh seorang selama hidupnya termasuk segala pengetahuan yang pernah diperolehnya. Oleh karena itu, semua pengalaman memungkinkan seseorang mencipta, yaitu dengan menggabung-gabungkan (mengkombinasikan) unsur-unsurnya menjadi sesuatu yang baru. Kreativitas (berpikir kreatif atau berpikir divergen) adalah kemampuan berkreasi berdasarkan data atau informasi yang tersedia dalam menemukan banyak kemungkinan jawaban terhadap suatu masalah, dimana penekanannya adalah pada kuantitas, ketepatgunaan, dan keragaman jawaban. Jawaban-jawaban yang diberikan harus sesuai dengan masalah yang dihadapi dengan memperhatikan kualitas dan mutu dari jawaban tersebut. Berpikir kreatif dalam menjawab segala masalah adalah dengan menunjukkan kelancaran berpikir (dapat memberikan banyak jawaban), menunjukkan keluwesan dalam berpikir (fleksibilitas), memberikan jawaban yang bervariasi, dan melihat suatu masalah dari berbagai sudut tinjauan. Secara operasional kreativitas dapat dirumuskan sebagai “kemampuan yang mencerminkan kelancaran, keluwesan (fleksibilitas), dan orisinalias dalam berpikir, serta kemampuan untuk mengelaborasi (mengembangkan, memperkaya, memperinci) suatu gagasan.
Mary Mayesky
Kreativitas adalah proses membawa sesuatu yang baru menjadi suatu hasil. Kreativitas adalah sebuah cara berpikir dan bertindak atau membuat sesuatu yang orisinal untuk diri sendiri dan bernilai bagi orang lain. Kreativitas berawal di dalam pemikiran seseorang dan biasanya merupakan hasil dari bentuk sebuah ekspresi yang dapat dilihat, didengar, dicium, dirasakan, atau dirasa.
Wikipedia
Kreativitas adalah sebuah proses mental meliputi penemuan ide baru atau konsep atau sebuah hubungan baru dari idea tau konsep yang sudah ada, dihasilkan berdasarkan proses dari pemikiran yang secara sadar ataupun tidak sadar

Clark Moustatis
Kreativitas adalah pengalaman mengekpresikan dan mengaktualisasikan identitas individu dalam bentuk terpadu dalam hubungan dengan diri sendiri, dengan alam, dan dengan orang lain.
Conny R. Semiawan
Kreativitas merupakan kemampuan untuk memberi gagasan baru yang menerapkannya dalam pemecahan masalah.
Carl Rogers (1982)
Kreativitas adalah kecenderungan untuk mengaktualisasikan diri, mewujudkan potensi, dorongan untuk berkembang dan menjadi matang ,kecenderungan untuk mengekpresikan dan mengaktifkan semua kemampuan organisme. Proses kreatif sebagai “munculnya dalam tindakan suatu produk baru yang tumbuh dari keunikan individu di satu pihak dan dari kejadian,orang-orang, dan keadaan hidupnya dilain pihak.”
David Campbell
Kreativitas adalah kegiatan yang mendatangkan hasil yang sifatnya: 1) Baru (novel): inovatif, belum ada sebelumnya, segar, menarik, aneh, mengejutkan. 2)Berguna (useful): lebih enak , lebih praktis, mempermudah, memperlancar, mendorong, mengembangkan, mendidik, memecahkan masalah, mengurangi hambatan, mengatasi kesulitan, mendatangkan hasil lebih baik/ banyak. 3)Dapat dimengerti (understandable): hasil yang sama dapat dimengerti dan dapat dibuat di lain waktu.
Britannica Concise Encyclopedia
Kreativitas adalah kemampuan untuk menghasilkan sesuatu yang baru melalui kemampuan imajinasi, sebuah solusi baru untuk sebuah masalah, sebuah metode baru atau alat, atau sebuah objek atau bentuk baru yang artistik.
Children’s Health Encyclopedia
Kreativitas adalah kemampuan untuk memikirkan dan menemukan desain baru, membuat karya seni, menyelesaikan masalah menggunakan penyelesaian baru, atau mengembangkan ide dasar yang orisinal, baru atau pendekatan secara tidak sadar. Kreativitas adalah kemampuan untuk melihat sesuatu di sebuah pemikiran baru, untuk melihat dan menyelesaikan masalah dengan cara yang berbeda, dan terlibat dalam pengalaman mental dan fisik yang baru, unik, atau berbeda.
Hurlock 1978
Kreativitas adalah suatu proses yang menghasilkan sesuatu yang baru apakah suatu gagasan atau suatu objek dalam suatu bentuk atau suatu susunan yang baru
Alvian 1983
Kreativitas adalha suatu proses upaya manusia atua bangsa untuk membangun dirinya dalalm berbagai aspek kehidupannya. Tujuan pembengunan diri itu ialah untuk menikmati kualitas kehidupan yang semakin baik.
Selo Soemardjan 1983
Kreativitas merupakan sifat pribadi seorang individu (dan bukan merupakan sifat sosial yang dihayati oleh masyarakat) yang tercermin dari kemampuanya untuk menciptakansesuatu yang baru.
Solso (1998)
Kreativitas adalah aktivitas kognitif yang menghasilkan cara pandang baru terhadap suatu masalah atau situasi.
Drevdal (1999)
Kreativitas adalah kemampuan seseorang untuk menghasilkan komposisi, produk, atau gagasan apa saja yang pada dasarnya baru, dan sebelumnya tidak dikenal pembuatnya.
Parnes (1963)
Kreativitas adalah proses berfikir dan merespon yang melibatkan hubungan dengan pengalaman sebelumnya, respon terhadap rangsangan yang berupa objek, symbol, ide-ide, orang maupun situasi dan menghasilkan paling tidak satu kombinasi yang unik.
Berdasrakan pengertian di atas dapat disimpulakan bahwa Kreativitas adalah proses berpikir dan bertindak untuk menciptakan atau menyusun gagasan baru, baik yang benar-benar baru (belum ada sebelumnya) ataupun yang merupakan kombinasi dari unsur/elemen yang sudah ada sehingga menghasilkan sesuatu yang baru, dapat berupa ide pemikiran maupun produk, yang bersifat unik, orisinil, berbeda dari sebelumnya sehingga dapat dijadikan sebagai pemecahan masalah ataupun dirasakan, dilihat, dinikmati dan bermanfaat bagi dirinya sendiri dan/atau orang lain.
NEUROBIOLOGI DALAM KREATIVITAS
Proses pemikiran untuk menyelesaikan masalah secara efektif melibatkan otak kiri atau otak kanan. Pemecahan masalah adalah kombinasi dari pemikiran logis dan kreatif. Secara umum, otak kiri memainkan peranan dalam pemrosesan logika, kata-kata, matematika, dan urutan yang disebut pembelajaran akademis. Otak kanan berurusan dengan irama, rima, musik, gambar, dan imajinasi yang disebut dengan aktivitas kreatif.

Bagan Proses Pemikiran Otak
Otak Kiri Otak Kanan
Vertikal
Kritis
Strategis
Analistis Lateral
Hasil
kreatif
Keterangan:
1. Berpikir Vertikal. Suatu proses bergerak selangkah demi selangkah menuju tujuan Anda, seolah-olah Anda sedang menaiki tangga.
2. Berpikir Lateral. Melihat permasalahan Anda dari beberapa sudut baru, seolah-olah melompat dari satu tangga ke tangga lainnya.
3. Berpikir Kritis. Berlatih atau memasukkan penilaian atau evaluasi yang cermat, seperti menilai kelayakan suatu gagasan atau produk.
4. Berpikir Analitis. Suatu proses memecahkan masalah atau gagasan Anda menjadi bagian-bagian. Menguji setiap bagian untuk melihat bagaimana bagian tersebut saling cocok satu sama lain, dan mengeksplorasi bagaimana bagian-bagian ini dapat dikombinasikan kembali dengan cara-cara baru.
5. Berpikir Strategis. Mengembangkan strategi khusus untuk perencanaan dan arah operasi-operasi skala besar dengan melihat proyek itu dari semua sudut yang mungkin.
6. Berpikir tentang Hasil. Meninjau tugas dari perspektif solusi yang dikehendaki.
7. Berpikir Kreatif. Berpikir kreatif adalah pemecahan masalah dengan menggunakan kombinasi dari semua proses.
Pada usia dini anak masih dalam taraf pertumbuhan dan perkembangan dalam berbagai segi termasuk otaknya. Otak merupakan pusat dari intelegensi pada anak. Koestler telah mengemukakan suatu teori tentang istilah belahan otak kiri dan kanan yang tugas dan fungsi, ciri dan responnya berbeda terhadap pengalaman belajar, meskipun tidak dalam arti mutlak. Respon kedua belahan otak ini tidak sama, dan menuntut pada pengalaman belajarnya. Seorang anak secara genetis telah lahir dengan suatu organisme yang disebut intelegensi yang bersumber dari otaknya. Kalau struktur otak telah ditentukan secara biologis, berfungsinya otak tersebut sangat dipengaruhi oleh interaksi dengan lingkungannya.Otak tersebut terdiri dari dua belahan otak (kiri dan kanan) yang disambung oleh segumpal serabut yang disebut corpus callosum. Kedua belahan otak tersebut berfungsi tugas dan responnya berbeda dan seharusnya tumbuh dalam keseimbangan. Pada anak-anak usia dini, maka program yang dilakukan seharusnya adalah upaya memaksimalkan pengembangan otak kanan anak. Hal ini disebabkan bahwa belahan otak kanan lebih banyak berfungsi untuk mengutamakan respon yang terkait dengan persepsi holistik, imajinatif, kreatif dan bisosiatif. Hal ini berbeda dengan otak kiri yang lebih bertugas untuk menangkap persepsi kognitif serta berpikir secara linier, logis, teratur dan lateral. Biasanya fungsi otak kiri lebih pada bidang pengajaran yang verbalistis dengan menekankan pada segi hapalan dan persepsi kognitif saja. Untuk itulah guna mengefektifkan otak kanan anak sejak usia dini maka diperlukan “experiental learning” (belajar berdasarkan pengalaman langsung) untuk anak-anak usia dini guna lebih mengefektifkan fungsi divergennya (dimana anak-anak dibiasakan untuk selalu memberikan ide dan alternatif yang tidak homogen). Hal ini akan berdampak pada anak yang kreatif, suka berpikir beda dan penuh ide. Oleh karena itu, terdapat beberapa ciri yang bisa dilihat pada anak usia dini yang dipercaya sebagai tanda-tanda positif untuk anak yang kreatif. Kemampuan motorik yang lebih awal seperti kemampuan untuk berjalan, memanjat, memakai baju dan sepatu ataupun menyuapi diri sendiri, anak mampu bicara dengan kalimat yang lengkap, kosa kata yang banyak, daya ingat yang baik dan menunjukkan keinginan yang kuat untuk belajar dan hasrat yang besar terhadap buku ataupun gambar-gambar dibandingkan dengan anak yang lainnya. Biasanya akan terlihat dari kecenderungannya untuk menyukai permainan yang merangsang daya khayalnya, adanya daya ingat yang baik, kemampuan coba-salah dan mempu menyenangi dirinya (bersibuk diri) dalam waktu yang cukup lama. Bagaimana kita dapat mengoptimalkan kemampuan otak kanan anak kita sejak usia dini. Ada beberapa motede yang dapat dipakai antara lain dengan bermain musik, bermain, menggambar, dan lain-lain. Akan tetapi terdapat pendapat lain yang mengatakan bahwa kreativitas memerlukan pengaktifan dan komunikasi bersama antara kedua belahan otak yang dalam kondisi normalnya tidak terhubung secara kuat. Orang-orang dengan tingkat kreatifitas tinggi yang unggul dalam inovasi kreatif cenderung berbeda dengan orang biasa pada tiga hal, yaitu:
a) Mereka mempunyai level yang tinggi dari pengetahuan khusus / tertentu
b) Mereka mampu untuk berpikir divergen yang diperantarai oleh lobus frontal.
c) Dan mereka dapat memodulasi neurotransmitters seperti norepinephrine di lobus frontal
mereka.
Selain memerlukan keseimbangan antara otak kanan dan kiri, di dalam otak juga terdapat bagian lain yang berpengaruh dalam kreativitas. Adapaun terdapat beberapa ahli yang telah menelitinya, antara lain:
Alice Flaherty
Kreativitas merupakan hasil dari interaksi antara lobus frontal, lobus temporal, dan dopamine dari system limbic. Lobus frontal dapat dipandang sebagai pihak yang berperan dalam kemunculan ide, dan lobus temporal berperan dalam menyunting dan mengevaluasi ide tersebut. Abnormalitas di lobus frontal seperti depresi dan ketakutan pada umumnya mengurangi kreativitas, sebaliknya abnormalitas di lobus temporal sering kali meningkatkan kreativitas. Aktivitas yang tinggi di lobus temporal biasanya mengurangi kinerja/aktivitas di lobus frontal dan bagitu pula sebaliknya. Level yang tinggi dari dopamine meningkatkan perilaku kebangkitan umum dan arah tujuan dan mengurangi keputusasaan dan pengaruh ketiganya mengingkatkan kemunculan ide-ide.
Vandevert (Memory kerja dan Cerebellum)
Vandenvert menjelaskan bagaimana lobus frontal dan fungsi kognitif dari cerebellum berkolaborasi untuk menghasilkan kreatifitas dan inovasi. Vandenvert menjelaskan dari bukti yang dapat diperhitungkan, bahwa semua proses dari memory kerja (yang bertanggung jawab untuk memproses semua pikiran) adalah dapat disesuaikan dengan model tertentu oleh cerebellum. Cerebellum, yang terdiri dari 100 milyar neuron, juga dikenal luas dalam peranannya penyesuaian dalam pergerakan tubuh. Proses memory kerja dari model penyesuaian Cerebellum, kemudian di umpan balik lobus prefrontal yang mengontrol proses memory kerja (yang kemudian pandangan kreatif atau pengalaman “aha!” terpicu di lobus temporal). Menurut Vandervert, detail dari adaptasi kreatif dimulai di bagian depan cerebellar model, dimana merupakan control anticipatory/eksploratory dari pergerakan dan pikiran. Proses ini kemudian berkembang menjadi perenungan yang diperpanjang dari waktu ke waktu. Level baru dari bangunan control ini kemudian diumpankan kepada lobus frontal. Karena model adaptive cerebellum dalam semua pergerakan dan semua level dari pikiran dan emosi, pendekatan Vandenvert membantu menjelaskan kreativitas dan inovasi dalam olahraga, seni, music dan disain video games, teknologi, matematika dan keajaiban anak-anak dan pikiran secara umum.
DIMENSI KREATIVITAS
Dimensi kreativitas menurut Rhodes (1961) terbagi menjadi empat yang dikenal disebut sebagai “The Four P’s of Creativity”. Keempat dimensi tersebut adalah person, process, product, dan press. Keempat P ini saling berkaitan, yaitu Pribadi (Person) kreatif yang melibatkan diri dalam proses (Process) kreatif, dan dengan dorongan dan dukungan (Press) dari lingkungan, menghasilkan produk (Product) kreatif.
Kreativitas dalam dimensi Person
Kreativitas pada dimensi person adalah upaya mendefinisikan kreativitas yang berfokus pada individu atau person dari individu yang dapat disebut kreatif. Guilford menerangkan bahwa kreativitas merupakan kemampuan atau kecakapan yang ada dalam diri seseorang, hal ini erat kaitannya dengan bakat. Dalam mendefinisikan pribadai kreatif anak usia dini, perlu diperhatikan 4 kriteria dasar menurut Guilford (1957) dan Jackson&Messick (1965) dalam Isenberg dan Jalongo, sebagai berikut:
Orisinal (original), perilaku yang tidak biasa dan di luar dugaan (mengejutkan) daripada hal yang khas dan dapat diprediksi.
Sesuai dan berkaitan (appropriate and relevant), perilaku kreatif memiliki kesesuaian dan berkaitan dengan tujuan dari seseorang ketika ia membuat sesuatu.
Kelancaran (fuent) yang menghasilkan sesuatu yang baru dalam bentuk yang berarti, perilaku kreatif menunjukkan kelancaran yang berkaitan dengan kreativitas dan dapat disamakan dengan kelancaran dalam berbahasa, hal ini dimaksudkan bahwa seorang anak dapat menghasilkan sebuah ide dengan mudah setelah menghasilkan ide sebelumnya.
Fleksibel (flexible) dalam mengembangkan dan menggunakan pendekatan yang tidak biasanya dalam memecahkan masalah.
Perilaku kreatif pada orang dewasa dan perilaku kreatif pada anak-anak adalah sesuatu yang berbeda. Kematangan kreativitas seseorang biasanya menekankan pada tiga hal yaitu, keahlian dalam kemampuan teknis dan artistik, kemampuan kreativitas seseorang, dan motivasi instrinsik. Seorang anak secara jelas memiliki pengalaman yang sedikit dibandingkan dengan orang dewasa, oleh sebab itu mereka memiliki sedikit keahlian dan gaya bekerja mereka belum berkembang dengan baik. Berikut ini merupakan karakteristik dasar yang dimiliki oleh seorang anak yang dapat membentuknya menjadi pribadi yang kreatif:
Unik merupakan ciri khas cara berpikir anak
Menurut Holden (1987), 3 hal keunggulan anak dalam berpikir untuk menjadi kreatif adalah: (a) sensitivitas dalam stimulasi internal dan eksternal, (b) tidak memiliki “hinbition” (pencegahan dalam diri), (3) kemampuan “menyerap” yang baik di dalam sebuah aktivitas.
Imajnasi dan fantasi
Imajinasi dan fantasi merupakan bekal awal yang dimiliki seseorang ketika masa kanak-kanak untuk menjadi pribadi yang kreatif. Imajinasi adalah kemampuan untuk membentuk berbagai bentuk dan mencerminkan berbagai variasi pikiran/mental atau konsep pemikiran berbagai hal tentang orang, tempat, sesuatu dan situasi yang tidak nyata. Oleh karena itu, menurut Weigner (1983) imajinasi adalah masalah yang harus diselesaikan seorang anak dengan orang dewasa “it is an” atau “as if” situasi. Selain itu, menurut Weigner, fantasi adalah sebuah bagian khusus dari imajinasi untuk mencerminkan pemikiran atau konsep yang memiliki sedikit kesamaan dengan dunia nyata. Fantasi mengeksplor keadaan dalam mempercayai hal yang mustahil atau sedikit nyata.
Sedangkan Gardner (1983) menjelaskan bagaimana seorang anak memiliki kebebesan dalam berpikir, dan dengan mudah dapat bergerak termasuk dalam berbagai gaya berpikir.
Adapun karakteristik perkembangan anak dalam kemampuan berkreasi menurut Mayesky (1990) adalah sebagai berikut:

Usia

Karakteritik Perkembangan

Indikator

0 – 2 tahun Kreativitas dalam berekspresi melalui kegiatan sensori dan eksplorasi dalam keadaan natural -Bereaksi terhadap pengalaman sensory-Mengeksplor media melalui segala indera-Mampu menggambar pertama kali pada usia 12-20 bulan
-Mulai mengikuti pola perkembangan secara umum.
2 – 4 tahun Kreativitas dalam berekspresi melalui kegiatan manipulate dan berorientasi pada kegiatan menemukan (discovery) dan kemampuan perkembangan -Mengeksplor dan memanipulasi bahan-bahan Berpengalaman pada permainan eksplorasi dan kegiatan seni-Sering mengulang kegiatan
-Mulai memberi nama dan mengerti symbol.
-Menilai bahwa hasil tidaklah begitu penting
-Dapat merusak produk yang dihasilkan selama proses pembuatan
-Mampu melihat “bentuk” dalam selama kegiatan
4 – 6 tahun Kreativitas dalam berekspresi menjadi lebih kompleks dan representasional -Membuat berbagai simbol untuk menggambarkan berbagai perasaan dan ide- Mampu merepresentasikan apa yang ia telah ketahui, bukan apa yang ia telah lihat-Mulai menciptakan kegiatan secara detail dan realistik secara bertahap.
-Menciptakan definisi dari bentuk dan ukuran
-Sering melakukan kegiatan tanpa terencana dan melakukan kegiatan dengan hati-hati
-Mulai jarang merusak kegiatan ataupun hasil produk selama proses berlangsung

Kreativitas dalam dimensi Proses
Kreativitas pada dimensi proses upaya mendefinisikan kreativitas yang berfokus pada proses berpikir sehingga memunculkan ide-ide unik atau kreatif.
“Creativity is a process that manifest in self in fluency, in flexibility as well in originality of thinking” (Munandar, 1977 dalam Reni Akbar-Hawadi dkk, 2001). Utami Munandar menerangkan bahwa kreativitas adalah sebuah proses atau kemampuan yang mencerminkan kelancaran, keluwesan (fleksibititas), dan orisinalitas dalam berpikir, serta kemampuan untuk mengelaborasi (mengembangkan, memperkaya, memperinci), suatu gagasan. Pada definisi ini lebih menekankan pada aspek proses perubahan (inovasi dan variasi). Selain pendapat yang diuraikan diatas ada pendapat lain yang menyebutkan proses terbentuknya kreativitas sebagai berikut :
Wallas (1976) dalam Reni Akbar-Hawadi dkk, 2001 mengemukakan empat tahap dalam proses kreatif yaitu:
1. Tahap Persiapan; adalah tahap pengumpulan informasi atau data sebagai bahan untuk memecahkan masalah. Dalam tahap ini terjadi percobaan-percobaan atas dasar berbagai pemikiran kemungkinan pemecahan masalah yang dialami.
2. Tahap Inkubasi; adalah tahap dieraminya proses pemecahan masalah dalam alam prasadar. Tahap ini berlangsung dalam waktu yang tidak menentu, bisa lama (berhari-hari, berbulan-bulan, bertahun-tahun), dan bisa juga hanya sebentar (hanya beberapa jam, menit bahkan detik). Dalam tahap ini ada kemungkinan terjadi proses pelupaan terhadap konteksnya, dan akan teringat kembali pada akhir tahap pengeraman dan munculnya tahap berikutnya.
3. Tahap Iluminasi; adalah tahap munculnya inspirasi atau gagasan-gagasan untuk memecahkan masalah. Dalam tahap ini muncul bentuk-bentuk cetusan spontan, seperti dilukiskan oleh Kohler dengan kata-kata now, I see itu yang kurang lebihnya berarti “oh ya”.
4. Tahap Verifikasi; adalah tahap munculnya aktivitas evaluasi tarhadap gagasan secara kritis, yang sudah mulai dicocokkan dengan keadaan nyata atau kondisi realita.

Dari dua pendapat ahli diatas memandang kreativitas sebagai sebuah proses yang terjadi didalam otak manusia dalam menemukan dan mengembangkan sebuah gagasan baru yang lebih inovatif dan variatif (divergensi berpikir). Proses kegiatan kreatif bagi anak usia dini merupakan sebuah program yang memberikan kesempatan dan tempat untuk mereka mengekspresikan pikiran, ide, perasaan, aksi, dan kemampuan dalam berbagai penggunaan media dan aktivitas. Adapun menurut Mayesky (1990) prinsip yang perlu di perhatikan dalam melakukan proses kreativitas untuk anak usia dini adalah:
1) Memperhatikan proses bukanlah hasil (product)
Tujuan utama kegiatan kreativitas bukanlah terlihat dari produk yang dihasilkan melainkan proses ketika berkreasi tersebut. Dalam proses kretivitas tersebut dapat terlihat menggambarkan pengalaman dan perasaan anak. Alasan lainnya mengapa proses krativitas lebih penting daripada produk yang dihasilkan adalah seorang anak belum memiliki kemampuan yang cukup baik dalam menggunakan material. Oleh karena itu, sebaiknya kegiatan kreativitas memberikan kesempatan kepada anak untuk berekspresi berdasarkan kemampuan anak untuk mengkonstruk sesuatu melalui cara mereka sendiri.
2) Memperhatikan kebutuhan anak
Kegiatan kreativitas harus memperhatikan kebutuhan anak, disesuaikan dengan usia, kemampuan, dan minat. Adapun hal-hal yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut:
– Menyiapkan area yang dapat memfasilitasi pengalaman kreatif anak
– Menyiapkan material-material sehingga anak mendapatkan pengalaman berkreasi setiap hari
– Menyiapkan kegiatan seni secara mingguan

Kreativitas dalam dimensi Press
Kreativitas menekankan pada faktor press atau dorongan, baik dorongan internal diri sendiri berupa keinginan dan hasrat untuk mencipta atau bersibuk diri secara kreatif, maupun dorongan eksternal dari lingkungan sosial dan psikologis. Definisi Simpson (1982) dalam S. C. U. Munandar 1999, merujuk pada aspek dorongan internal dengan rumusannya sebagai berikut : “The initiative that one manifests by his power to break away from the usual sequence of thought” Mengenai “press” dari lingkungan, ada lingkungan yang menghargai imajinasi dan fantasi, dan menekankan kreativitas serta inovasi. Kreativitas juga kurang berkembang dalam kebudayaan yang terlalu menekankan tradisi, dan kurang terbukanya terhadap perubahan atau perkembangan baru. Dalam mengembangkan kreativitas untuk anak usia dini, lingkungan juga merupakan faktor yang sangat menentukan. Jika lingkungan sekitar anak aman dan mampu menstimulasi maka lingkungan dapat meningkatkan kreativitas anak. Hal ini disebabkan anak secara natural selalu ingin mengetahui dan mencari tahu tentang lingkungan sekitar mereka. Oleh karena itu, lingkungan sekitar anak sebaiknya menjadi lingkungan pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada anak untuk mengeksplorasi dan mendapatkan pelajaran serta memberikan kesempatan untuk anak berkreasi. Maxim (1985) menjelaskan tentang lingkungan yang mampu menstimulasi tindakan kreatif anak adalah lingkungan yang memperhatikan beberapa aspek di bawah ini:
– Keterbatasan waktu sebaiknya dihapus dalam kegiatan yang mana anak terlibat secara lebih jauh.
– Kebebasan, hal ini membangun keadaan dimana anak terdorong untuk berkespresi.
– Anak mampu mengemukakan ide dan terstimulasi kemampuan berpikir lainnya.
– Menghilangkan kondisi yang membuat stress dan cemas dalam lingkungan. Lingkungan harus dikondisikan dengan suasana yang menyenangkan.
Selain itu, lingkungan yang mampu menstimulasi kegiatan kreativitas harus menyediakan berbagai material, sejak anak membutuhkannya dalam kegiatan manipulasi secara fisik sebagai kegiatan pembelajaran.
Definisi Kreativitas dalam dimensi Product
Definisi pada dimensi produk merupakan upaya mendefinisikan kreativitas yang berfokus pada produk atau apa yang dihasilkan oleh individu baik sesuatu yang baru/original atau sebuah elaborasi/penggabungan yang inovatif. “Creativity is the ability to bring something new into existence”(Baron, 1976 dalam Reni Akbar-Hawadi dkk, 2001) Definisi yang berfokus pada produk kreatif menekankan pada orisinalitas, seperti yang dikemukakan oleh Baron (1969) yang menyatakan bahwa kreatifitas adalah kemampuan untuk menghasilkan/menciptakan sesuatu yang baru. Begitu pula menurut Haefele (1962) dalam Munandar, 1999; yang menyatakan kreativitas adalah kemampuan untuk membuat kombinasi-kombinasi baru yang mempunyai makna sosial. Dari dua definisi ini maka kreatifitas tidak hanya membuat sesuatu yang baru tetapi mungkin saja kombinasi dari sesuatu yang sudah ada sebelumnya.
KARAKTERISTIK PRIBADI KREATIF
Menurut Davis (1999), terdapat 115 karakter atau ciri-ciri yang ditemukan pada orang yang kreatif. Namun tidak setiap orang kreatif memiliki ke 15 karakter tersebut. Di sini ada beberapa contoh beberapa tokoh-tokoh yang kreatif namun para guru, professor atau pengawasnya TIDAK mengenali karakter mereka
– Thomas Edision dibilang bodoh untuk melakukan segala sesuatuoleh gurunya
– Albert einsten baru bisa berbicara umur 4 tahun dan membaca umur 7 tahun
– Walt Disney dipecat oleh editor Koran karena ia tidak memiliki “ide” yang bagus
– Charles Darwin berprestasi buruk ketika kecil dan gagal ketika kuliah kedokteran
Ke-15 karakter yang akan dibahas lebih lanjut adalah:
1. Sadar bahwa ia kreatif
Sebagian besar orang-orang yang kratif menyadari akan kekreatifannya. Mereka memiliki kebiasaan melakukan hal yang kreatif dan meraka menyukai menjadi kretif. Davis (1999), mengatakan bahwa dalam meningkatkan kratifitas kita dan mengajarkannya kepada orang lain. Mengapa kesadaran kalau kreatif itu penting? Karena karakter ini dapat mendorong kepada karakter ini dapat mendorong kepada karakter-karakter yang lain. Ketika seseorang membangun kesadaran akam kreatif maka secara alam bawah sadar ia akan terbawa keperilaku dan bagaimana ia berfikir, ketika seseorang sadar bahwa ia kreatif, ia akan memilki rasa percaya diri yang tinggi. Ada beberapa strategi untuk membangun atau mengembangkan sifat ini
– Buat anak-anak murid melangkah melewati batasan
– Tanyakan pertanyaan yang memancng
– Minta mereka membuat sesuati dari barang bekas
– Katakana pada murid berulang kali bahwa mereka bisa lebih kreatif
– Guru selalu mengatakan diawal pelajaran “hai, apa kabarmu murid-muridku yang kreatif ?” mereka akan termotivasi untuk berfikir
2. Orisinil
Tradiff dan Stemberg (1988) mengatakan bahwa orisinalitas dan imajinasi yang baik biasa diasosiasikan dengan orang yang kreatif. Ada beberapa strategi untuk membangin atau mengembangkan sifat orisinal ini
– Guru memberikan dorongan kepada murid
– Guru memberikan ide-ide liar untuk mengembangkan atau memberikan ide-ide lain
– Dalam tugas, beri kesempatan bagi murid untuk mengeluarkan banyak ide
– Menyelenggarakan perlombaan yang meliputi motivasi originalitas
3. Independen
Orang yang kreatif berani berbeda dari yang lain, melakukan perubahan, menonjol, menentang tradisi, dan membelokkan beberapa peraturan (bukan dalam arti melakukan hal negatif).
Ada beberapa strategi untuk membangun atau mengembangkan sifat ini
– Guru mengeajarkan murd untuk melakukan pekerjaan mereka secara mandiri dengan tema yang berbeda
– Guru meluangkan waktu diluar jam pelajaran untuk mendengarkan masalah murid
– Guru menyemangati murid
– Membuat murid berfikir bahwa “saya bisa melakukan ini”
– Murid diperbolehkan mengatur, merencanakan acara-acara sekolah
4. Berani ambil resiko
Sifat ini berhubungan ketika berhadapan dengan segala sesuatu yang belum jelas, baik itu situasi, masalah, jawaban dan lain-lain. Hal yang belum jelas itu memiliki resiko. Orang kreatif akan berani mengambil resiko dengan tetap menghadapi masalah. Ada beberapa strategi untuk membangun atau mengembangkan sifat ini.
– Guru membebaskan murid untuk mengemukakan ide-ide mereka
– guru memberikan tanggapan yang positif kepada anak yang berani ambil resiko dan puji mereka
– berikan kesempatan kepada murid untuk mengambil resiko yang tidak akan mempengaruhi nilai mereka, sehingga bisa merasa nyaman untuk mengambil resiko tersebut.
5. Penuh energi
Orang yang kreatif memilikii tipikal sebagai orang yang penuh energy. Biasanya ia pantang menyerah, berkomitmen penuh akan sesuatu dan memiliki loyalitas. Thomas Edison melakukan ratusan kali percobaan yang gagal hingga akhirnya menemukan bola lampu. Jika ia tidak memiliki energy yang melimpah mungkin ia akan menyerah. Ada beberapa strategi untuk membangun dan mengembangkan sifat ini:
– guru mengetahui kegairahan bekerja yang dimiliki murid. Kenali bahasa penyelesaiannya dan motivasinya
– selalu menyemangati murid untuk melakukan yang terbaik
– menjadi teladan untuk murid penuh dengan energi ketika mengajar
6. Rasa ingin tahu
Orang yang kreatif memiliki rasa ingin tahu yang tinggi dan kuat. Ia mempertanyakan segala sesuatu dan mempertahankan rasa ingin tahu mereka.
Ada beberapa strategi untuk membangun atau mengembangkan sifat ini :
– Guru memberikan objek nyata pada murid dan membiarkan murid-murid untuk bertanya
– Guru memberikan kertas kosong dan tanyakan apa yang ingin dipelajari pada saat itu
– Berikan pertanyaan terbuka (dengan kalimat,”bagaimana jika?”, apabila, kalaw?’ dll)
7. Punya rasa humor
Sifat lain yang biasanya ditemukan pada orang kreatif adalah selera humor yang tinggi. Dalam mengahadapi masalah, rasa humor dapat menghadirkan suasana yang relaks. Ada beberapa strategi untuk membangun atau mengembangkan sifat ini:
– Minta anak untuk berfikir: jika kamu adalah (professor Einsten, SBY, tutup kloset, dsb) apa yang akan kamu pikirkan/lakukan?..
– Berikan banyak permainan
– Menyeling pelajaran atau ketika mengajar dengan lelucon/cerita lucu
– Mengadakan hari kostum lucu
8. Memiliki kapasitas untuk berfantasi
Kemampuan berimajinasi dan berfantasi adalah sifat yang sering ditemukan pada orang yang kreatif. Imajinasi diperlukan untuk menjembatanai dari sesuatu yang sudah diketahui kesesuatu yang belum diketahui.
9. Tertarik pada hal yang rumit, kompleks dan belum jelas
Orang yang kreatif biasanya akan tertarik pada hal-hal yang rumit, kompleksitas, ketidak jelasan, fantasi dan kemisteriusan. Sifat ini merupakan hal yang penting karena seseorang akan menemukan tantangan-tantangan yang baru. Kerumitan, ketidakjelasan dan kekompleksan itulah yang membuat kreatifitasnya terasah. Ada beberapa strategi untuk membangun atau mengembangkan sifat ini:
– Murid membuat cerita yang sangat imajinatif yang dibuat oleh murid sendiri
– Murid bermain dengan pikiran yang imajinatif, seperti : bagaimana jika…? Menantang situasi yang ada.
– Membacakan dongeng
– Minta murid-murid untuk membuat sesuatu yang seperti mainan yang belum pernah ada sebelumnya.
10. Artistik
Orang kreatif biasanya menganggap dirinya artistic walaupun dirinya tidak bisa menggambar. Mengembangkan jiwa artistik akan penting untuk membantu kita melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda. Jiwa artistik akan membantu kita untuk memberikan nilai lebih pada ide atau karya kita.
13. Berfikir terbuka
Berfikiran terbuka merupakan tingkah laku kreatif yang utaman juga. Ini merupakan keinginan untuk menerima ide-ide baru dan melihat sebuah masalah dari sudut pandang yang berbeda. Ada beberapa strategi untuk membangun atau mengembangkan sifat ini:
– Permainan pern “jika aku menjadi “…….
– Memperbanyak diskusi debat
– Membaca banyak buku untuk menambah wawasan
12. Cermat dan teliti
Sifat ini secara teori akan membuat orang terorganisir, disiplin dan komitmen penuh pada apa yang akan dikerjakan.
13.Butuh waktu menyenderi
Beberapa orang yang kreatif memilih untuk bekerja sendiri disbanding bekerja di kelompok. Dengan sendiri ia bisa melibatkan kemandirian kreatifnya.
14. Mudah mengerti
Orang kreatif biasanya mudah mengerti akan suatu masalah. Ia dapat melihat hubungan-hubungan dari data atau informasi yang didapatnya.
15. Emotional
Ada beberapa orang yang dianugerahi dengan kemampuan berimajinasi dan berfantasi yang hebat, meramal, berpuisi dan lain. Orang –orang ini memiliki emosi yang sangat mendalam dan memiliki kepedulian yang tinggi mengenai mana yang benar dan salah.

DAFTAR PUSTAKA

Isenberg, Joan.P & Marry Renck Jalongo. Creative Expression And Play In The Early Chilhood Curriculum. 1993. Toronto: Maxwell Macmillan Canada.

Mayesky, Mary. Creative Activities for Young Children. 1990. USA: Delmat Publisher Inc.

Munandar, S.C. Utami. Mengembangkan Bakat dan Kreativitas Anak Sekolah (Petunjuk Bagi Guru dan Orangtua). 1992. Jakarta: Gramedia.

Oka, Aloysius dan Della Alamsyah. Buku Ajar Mata Kuliah Kreativitas (Pribadi yang Kreatif). Jakarta:Kredo

Suryani, Lilis. Buku Ajar Mata Kuliah Kreativitas. 2007. Jakarta: UNJ

Materi ELIMINASI FEKAL DAN URIN

KEBUTUHAN ELIMINASI

( Oleh : Dewa Putu Arwidiana)

 

  1. A.    Latar Belakang

Eliminasi merupakan salah satu dari proses metabolic tubuh. Produk sampah dikeluarkan melalui paru-paru, kulit, ginjal dan pencernaan. Paru-paru secara primer mengeluarkan karbondioksida, sebuah bentuk gas yang dibentuk selama metabolisme pada jaringan. Hampir semua karbondioksida dibawa keparu-paru oleh system vena dan diekskresikan melalui pernapasan. Kulit mengeluarkan air dan natrium / keringat. Ginjal merupakan bagian tubuh primer yang utama untuk mengekskresikan kelebihan cairan tubuh, elektrolit, ion-ion hydrogen, dan asam. Eliminasi urin secara normal bergantung pada pemasukan cairan dan sirkulasi volume darah ; jika salah satunya menurun, pengeluaran urin akan menurun. Pengeluaran urin juga berubah pada seseorang dengan penyakit ginjal, yang mempengaruhi kuantitas, urin dan kandungan produk sampah didalam urin.

Usus mengeluarkan produk sampah yang padat dan beberapa cairan dari tubuh. Pengeluaran sampah yang padat melalui evakuasi usus besar biasanya menjadi sebuah pola pada usia 30 sampai 36 bulan.

Tujuan Pembelajaran:

  • Mengetahui konsep eliminasi  dan metabolisme tubu
  • Mengetahui fisiologi proses eliminasi dalam tubuh
  • Mengetahui gangguan eliminasi urine dalam tubuh
  • Mengetahui masalah dalam eliminasi fecal
  • Mangetahui proses keperawatan pada pasien yang mengalami gangguan pada proses eliminasi.

 

  1. B.    Faktor yg Mempengaruhi Eliminasi Urine

 

Faktor yg Mempengaruhi Eliminasi Urine

  1. Diet dan Asupan (intake)

Jumlah dan tipe makanan merupakan faktor utama yang memengaruhi output urine (jumlah  urine). Protein dapat menentukan jumlah urine yang dibentuk. Selain itu, juga dapat meningkatkan pembentukan urine.

 

  1. Respons Keinginan Awal untuk Berkemih

Kebiasaan mengabaikan keinginan awal untuk berkemih dapat menyebabkan urine banyak tertahan di dalam urinaria sehingga memengaruhi ukuran vesika urinaria dan jumlah urine.

 

3. Gaya Hidup

Perubahan gaya hidup dapat memengaruhi pemenuhan kebutuhan eliminasi dalam kaitannya terhadap tersedianva fasilitas toilet.

 

4. Stres Psikologis

Meningkatnya stres dapat mengakibatkan meningkatnya frekuensi keinginan berkemih. Hal ini karena meningkatnya sensitivitas untuk keinginan berkemih dan jumlah urine yang diproduksi.

 

5. Tingkat Aktivitas

Eliminasi urine membutuhkan tonus otot vesika urinaria yang baik untuk fungsi sfingter.

Hilangnya tonus otot vesika urinaria menyebabkan kemampuan pengontrolan berkemih

menurun dan kemampuan tonus otot didapatkan dengan beraktivitas.

 

6. Tingkat Perkembangan

Tingkat pertumbuhan dan perkembangan juga dapat memengaruhi pola berkemih. hal

tersebut dapat ditemukan pada anak, yang lebih memiliki mengalami kesulitan untuk

mengontrol buang air kecil. Namun dengan usia kemampuan dalam mengontrol buang

airkecil

 

7. Kondisi Penyakit

Kondisi penyakit dapat memengaruhi produksi urine, seperti diabetes melitus.

 

8. Sosiokultural

Budaya dapat memengaruhi pemenuhan kebutuhan eliminasi urine, seperti adanya kultur pada masyarakat tertentu yang melarang untuk buang air kecil di tempat tertentu.

 

9. Kebiasaan Seseorang

Seseorang yang memiliki kebiasaan berkemih di mengalamikesulitan untuk berkemih dengan melalui urineal/pot urine bila dalam keadaan sakit.

 

10. Tonus Otot

Tonus otot yang memiliki peran penting dalam membantu proses berkemih adalah otot

kandung kemih, otot abdomen dan pelvis. Ketiganya sangat berperan dalam kontraksi

pengontirolan pengeluaran urine.

 

11. Pembedahan

Efek pembedahan dapat menyebabkan penurunan pemberian obat anestesi menurunkan filtrasi glomerulus yang dapat jumlah produksi urine karena dampak dari

 

12. Pengobatan

Pemberian tindakan pengobatan dapat berdampak pada terjadinya peningkatan atau

penurunan -proses perkemihan. Misalnya pemberian diure;tik dapat meningkatkan jumlah urine, se;dangkan pemberian obat antikolinergik dan antihipertensi dapat menyebabkan retensi urine.

 

13. Pemeriksaan Diagnostik

Pemeriksaan diagnostik ini juga dap’at memengaruhi kebutuhan eliminasi urine, khususnya prosedur-prosedur yang berhubungan dengan tindakan pemeriksaan saluran kemih seperti IVY (intra uenus pyelogram), yang dapat membatasi jumlah asupan sehingga mengurangi produksi urine. Se;lain itu tindakan sistoskopi dapat menimbulkan edema lokal pada uretra yang dapat mengganggu pengeluaran urine.

 

 

KONSEP ELIMINASI DAN METABOLISME TUBUH

I. Konsep Dasar Pemenuhan Kebutuhan Eliminasi Urine.

 

a. Miksi (berkemih)

Miksi adalah proses pengosongan kandung kemih bila kandung kemih terisi. Proses ini

terjadi dari dua langkah utama yaitu :

Kandung kemih secara progresif terisi sampai tegangan di dindingnya meningkat diatas nilai ambang, yang kemudian mencetuskan langkah kedua Timbul refleks saraf yang disebut refleks miksi (refleks berkemih) yang berusaha mengosongkan kandung kemih atau jika ini gagal, setidak-tidaknya menimbulkan kesadaran akan keinginan untuk berkemih. Meskipun refleks miksi adalah refleks autonomik medula spinalis, refleks ini bisa juga dihambat atau ditimbulkan oleh pusat korteks serebri atau batang otak.

 

b. Refleks Berkemih

Kita dapat mengetahui selama kandung kemih terisi, banyak yang menyertai kontraksi

berkemih mulai tampak, seperti diperlihatkan oleh gelombang tajam dengan garis putus

putus. Keadaan ini disebabkan oleh refleks peregangan yang dimulai oleh reseptor regang sensorik pada dinding kandung kemih, khususnya oleh reseptor pada uretra posterior ketika daerah ini mulai terisi urin pada tekanan kandung kemih yang lebih tinggi. Sinyal sensorik dari reseptor regang kandung kemih dihantarkan ke segmen sakral medula spinalis melalui nervus pelvikus dan kemudian secara refleks kembali lagi ke kandung kemih melalui serat saraf parasimpatis melalui saraf yang sama ini.

Ketika kandung kemih hanya terisi sebagian, kontraksi berkemih ini biasanya secara spontan berelaksasi setelah beberapa detik, otot detrusor berhenti berkontraksi, dan tekanan turun kembali ke garis basal. Karena kandung kemih terus terisi, refleks berkemih menjadi bertambah sering dan menyebabkan kontraksi otot detrusor lebih kuat. Sekali reflex berkemih mulai timbul, refleks ini akan “ menghilang sendiri. “ Artinya, kontraksi awal kandung kemih selanjutnya akan mengaktifkan reseptor regang untuk menyebabkan peningkatan selanjutnya pada impuls sensorik ke kandung kemih dan uretra posterior, yang menimbulkan peningkatan refleks kontraksi kandung kemih lebih lanjut, jadi siklus ini berulang dan berulang lagi sampai kandung kemih mencapai kontraksi yang kuat. Kemudian, setelah beberapa detik sampai lebih dari semenit, refleks yang menghilang sendiri ini mulai melemah dan siklus regeneratif dari refleks miksi ini berhenti, menyebabkan kandung kemih berelaksasi.

Jadi refleks berkemih adalah suatu siklus tunggal lengkap dari :

Peningkatan tekanan yang cepat dan progresif Periode tekanan dipertahankan dan

Kembalinya tekanan ke tonus basal kandung kemih. Sekali refleks berkemih terjadi tetapi tidak berhasil mengosongkan kandung kemih, elemen saraf dari refleks ini biasanya tetap dalam keadaan terinhibisi selama beberapa menit sampai satu jam atau lebih sebelum reflex berkemih lainnya terjadi. Karena kandung kemih menjadi semakin terisi, refleks berkemih menjadi semakin sering dan semakin kuat. Sekali refleks berkemih menjadi cukup kuat, hal ini juga menimbulkan refleks lain, yang berjalan melalui nervus pudendal ke sfingter eksternus untuk menghambatnya. Jika inhibisi ini lebih kuat dalam otak daripada sinyal konstriktor volunter ke sfingter eksterna, berkemih pun akan terjadi. Jika tidak, berkemih tidak akan terjadi sampai kandung kemih terisi lagi dan refleks berkemih menjadi makin kuat.

 

II. Konsep Dasar Pemenuhan Kebutuhan Eliminasi fecal

Susunan feses terdiri dari :

  • Bakteri yang umumnya sudah mati
  • Lepasan epitelium dari usuS
  • Sejumlah kecil zat nitrogen terutama musin (mucus)
  • Garam terutama kalsium fosfat
  • Sedikit zat besi dari selulosa
  • Sisa zat makanan yang tidak dicerna dan air (100 ml)

 

Faktor-faktor yang mempengaruhi Eliminasi fecal

  • Usia dan perkembangan : mempengaruhi karakter feses, control
  • Diet
  • Pemasukan cairan. Normalnya : 2000 – 3000 ml/hari
  • Aktifitas fisik : Merangsang peristaltik usus, sehingga peristaltik usus meningkat.
  • Faktor psikologik
  • Kebiasaan
  • Posisi
  • Nyeri
  • Kehamilan : menekan rectum
  • Operasi & anestesi
  • Obat-obatan
  • Test diagnostik : Barium enema dapat menyebabkan konstipasi
  • Kondisi patologis
  • Iritan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

FISIOLOGI PROSES ELIMINASI DALAM TUBUH

 

  1. Anatomi Fisiologik & Hubungan Saraf pada Kandung Kemih

 

  1. 1.      Ginjal

Ginjal merupakan sepasang organ berbentuk seperti kacang buncis, berwarna coklat agak kemerahan, yang terdapat di kedua sisi kolumna vertebra posterior terhadap peritoneum dan terletak pada otot punggung bagian dalam. Ginjal terbentang dari vertebra torakalis ke-12 sampai vertebra lumbalis ke-3. Dalam kondisi normal, ginjal kiri lebih tinggi 1,5 – 2 cm dari ginjal kanan karena posisi anatomi hati. Setiap ginjal secara khas berukuran 12 cm x 7 cm dan memiliki berat 120-150gram. Sebuah kelenjar adrenal terletak dikutub superior setiap ginjal, tetapi tidak berhubungan langsung dengan proses eliminasi urine. Setiap ginjal di lapisi oleh sebuah kapsul yang kokoh dan di kelilingi oleh lapisan lemak.

 

  1. 2.      Ureter

Sebuah ureter bergabung dengan setiap pelvis renalis sebagai rute keluar pertama pembuangan urine. Ureter merupakan struktur tubulan yang memiliki panjang 25-30 cm dan berdiameter 1,25 cm pada orang dewasa. Ureter membentang pada posisi retroperitonium untuk memasuki kandung kemih didalam rongga panggul (pelvis) pada sambungan ureter ureterovesikalis. Urin yang keluar dari ureter kekandung kemih umumnya steril.

 

  1. 3.    Kandung kemih

Kandung kemih adalah ruangan berdinding otot polos yang terdiri dari dua bagian

besar :

Badan (corpus), merupakan bagian utama kandung kemih dimana urin berkumpul dan, leher (kollum), merupakan lanjutan dari badan yang berbentuk corong, berjalan secara inferior dan anterior ke dalam daerah segitiga urogenital dan berhubungan dengan uretra. Bagian yang lebih rendah dari leher kandung kemih disebut uretra posterior karena hubungannya dengan uretra.

Otot polos kandung kemih disebut otot detrusor. Serat-serat ototnya meluas ke segala arah dan bila berkontraksi, dapat meningkatkan tekanan dalam kandung kemih menjadi 40 sampai 60 mmHg. Dengan demikian, kontraksi otot detrusor adalah langkah terpenting untuk mengosongkan kandung kemih. Sel-sel otot polos dari otot detrusor terangkai satu sama lain sehingga timbul aliran listrik berhambatan rendah dari satu sel otot ke sel otot lainnya. Oleh karena itu, potensial aksi dapat menyebar ke seluruh otot detrusor, dari satu sel otot ke sel otot berikutnya, sehingga terjadikontraksi seluruh kandung kemih dengan segera.

Dinding posterior kandung kemih, tepat diatas bagian leher dari kandung kemih, terdapat daerah segitiga kecil yang disebut Trigonum. Bagian terendah dari apeks trigonum adalah bagaian kandung kemih yang membuka menuju leher masuk kedalam uretra posterior, dan kedua ureter memasuki kandung kemih pada sudut tertinggi trigonum. Trigonum dapat dikenali dengan melihat mukosa kandung kemih bagian lainnya, yang berlipat-lipat membentuk rugae. Masing-masing ureter, pada saat memasuki kandung kemih, berjalan secara oblique melalui otot detrusor dan kemudian melewati 1 sampai 2 cm lagi dibawah mukosa kandung kemih sebelum mengosongkan diri ke dalam kandung kemih.

Leher kandung kemih (uretra posterior) panjangnya 2 – 3 cm, dan dindingnya terdiri dari otot detrusor yang bersilangan dengan sejumlah besar jaringan elastik. Otot pada daerah ini disebut sfinter internal. Sifat tonusnya secara normal mempertahankan leher kandung kemih dan uretra posterior agar kosong dari urin dan oleh karena itu, mencegah pengosongan kandung kemih sampai tekanan pada daerah utama kandung kemih meningkat di atas ambang kritis. Setelah uretra posterior, uretra berjalan melewati diafragma urogenital, yang mengandung lapisan otot yang disebut sfingter eksterna kandung kemih. Otot ini merupakan otot lurik yang berbeda otot pada badan dan leher kandung kemih, yang hanya terdiri dari otot polos. Otot sfingter eksterna bekerja di bawah kendali system saraf volunter dan dapat digunakan secara sadar untuk menahan miksi bahkan bila kendali involunter berusaha untuk mengosongkan kandung kemih.

 

  1. 4.      Uretra

Urin keluar dari kandung kemih melalui uretra dan keluar dari tubuh melalui meatus uretra. Dalam kondisi normal, aliran urin yang mengalami turbulansi membuat urin bebas dari bakteri. Membrane mukosa melapisi uretra, dan kelenjar uretra mensekresi lendir kedalam saluran uretra. Lendir dianggap bersifat bakteriostatis dan membentuk plak mukosa untuk mencegah masuknya bakteri. Lapisan otot polos yang tebal mengelilingi uretra.

 

  1. 5.      Persarafan Kandung Kemih

Persarafan utama kandung kemih ialah nervus pelvikus, yang berhubungan dengan medula spinalis melalui pleksus sakralis, terutama berhubungan dengan medulla spinalis segmen S-2 dan S-3. Berjalan melalui nervus pelvikus ini adalah serat saraf sensorik dan serat saraf motorik. Serat sensorik mendeteksi derajat regangan pada dinding kandung kemih. Tanda-tanda regangan dari uretra posterior bersifat sangat kuat dan terutama bertanggung jawab untuk  mencetuskan refleks yang menyebabkan pengosongan kandung kemih.

Saraf motorik yang menjalar dalam nervus pelvikus adalah serat parasimpatis. Serat ini berakhir pada sel ganglion yang terletak pada dinding kandung kemih. Saraf psot ganglion pendek kemudian mempersarafi otot detrusor. Selain nervus pelvikus, terdapat dua tipe persarafan lain yang penting untuk fungsi kandung kemih. Yang terpenting adalah serat otot lurik yang berjalan melalui nervus pudendal menuju sfingter eksternus kandung kemih. Ini adalah serat saraf somatic yang mempersarafi dan mengontrol otot lurik pada sfingter. Juga, kandung kemih menerima saraf simpatis dari rangkaian simpatis melalui nervus hipogastrikus, terutama berhubungan dengan segmen L-2 medula spinalis. Serat simpatis ini mungkin terutama merangsang pembuluh darah dan sedikit mempengaruhi kontraksi kandung kemih. Beberapa serat saraf sensorik juga berjalan melalui saraf simpatis dan mungkin penting dalam menimbulkan sensasi rasa penuh dan pada beberapa keadaan, rasa nyeri. Transpor Urin dari Ginjal melalui Ureter dan masuk ke dalam Kandung Kemih Urin yang keluar dari kandung kemih mempunyai komposisi utama yang sama dengan cairan yang keluar dari duktus koligentes, tidak ada perubahan yang berarti pada komposisi urin tersebut sejak mengalir melalui kaliks renalis dan ureter sampai kandung kemih. Urin mengalir dari duktus koligentes masuk ke kaliks renalis, meregangkan kaliks renalis dan meningkatkan pacemakernya, yang kemudian mencetuskan kontraksi peristaltik yang menyebar ke pelvis renalis dan kemudian turun sepanjang ureter, dengan demikian mendorong urin dari pelvis renalis ke arah kandung kemih. Dinding ureter terdiri dari otot polos dan dipersarafi oleh saraf simpatis dan parasimpatis seperi juga neuron-neuron pada pleksus intramural dan serat saraf yang meluas diseluruh panjang ureter. Seperti halnya otot polos pada organ viscera yang lain, kontraksi peristaltik pada ureter ditingkatkan oleh perangsangan parasimpatis dan dihambat oleh perangsangan simpatis. Ureter memasuki kandung kemih menembus otot detrusor di daerah trigonum kandung kemih. Normalnya, ureter berjalan secara oblique sepanjang beberapa cm menembus dinding kandung kemih. Tonus normal dari otot detrusor pada dinding kandung kemih cenderung menekan ureter, dengan demikian mencegah aliran balik urin dari kandung kemih waktu tekanan di kandung kemih meningkat selama berkemih atau sewaktu terjadi kompresi kandung kemih. Setiap gelombang peristaltic yang terjadi di sepanjang ureter akan meningkatkan tekanan dalam ureter sehingga bagian yang menembus dinding kandung kemih membuka dan memberi kesempatan urin mengalir ke dalam kandung kemih.

Pada beberapa orang, panjang ureter yang menembus dinding kandung kemih kurang dari normal, sehingga kontraksi kandung kemih selama berkemih tidak selalu menimbulkan penutupan ureter secara sempurna. Akibatnya, sejumlah urin dalam kandung kemih terdorong kembali kedalam ureter, keadaan ini disebut refluks vesikoureteral. Refluks semacam ini dapat menyebabkan pembesaran ureter dan, jika parah, dapat meningkatkan tekanan di kaliks renalis dan struktur-struktur di medulla renalis, mengakibatkan kerusakan daerah ini.

Sensasi rasa nyeri pada Ureter dan Refleks Ureterorenal. Ureter dipersarafi secara sempurna oleh serat saraf nyeri. Bila ureter tersumbat (contoh : oleh batu ureter), timbul refleks konstriksi yang kuat sehubungan dengan rasa nyeri yang hebat. Impuls rasa nyeri juga menyebabkan refleks simpatis kembali ke ginjal untuk mengkontriksikan arteriol-arteriol ginjal, dengan demikian menurunkan pengeluaran urin dari ginjal. Efek ini disebut refleks ureterorenal dan bersifat penting untuk mencegah aliran cairan yang berlebihan kedalam pelvis ginjal yang ureternya tersumbat.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

ANATOMI FISIOLOGI SALURAN CERNA

  1. Mulut

Gigi berfungsi untuk menghancurkan makanan pada awal proses pencernaan.

Mengunyah dengan baik dapat mencegah terjadinya luka parut pada permukaan saluran pencernaan. Setelah dikunyah lidah mendorong gumpalan makanan ke dalam faring, dimana makanan bergerak ke esofagus bagian atas dan kemudian kebawah ke dalam lambung.

 

  1. Esofagus

Esofagus adalah sebuah tube yang panjang. Sepertiga bagian atas adalah

terdiri dari otot yang bertulang dan sisanya adalah otot yang licin.

Permukaannya diliputi selaput mukosa yang mengeluarkan sekret mukoid

yang berguna untuk perlindungan.

 

  1. Lambung

Gumpalan makanan memasuki lambung, dengan bagian porsi terbesar dari saluran pencernaan. Pergerakan makanan melalui lambung dan usus dimungkinkan dengan adanya peristaltik, yaitu gerakan konstraksi dan relaksasi secara bergantian dari otot yang mendorong substansi makanan dalam gerakan menyerupai gelombang. Pada saat makanan bergerak ke arah spingter pylorus pada ujung distla lambung, gelombang peristaltik meningkat.

Kini gumpalan lembek makanan telah menjadi substansi yang disebut chyme. Chyme ini dipompa melalui spingter pylorus kedalam duodenum. Rata-rata waktu yang diperlukan untuk mengosongkan kembali lambung setelah makan adalah 2 sampai 6 jam.

 

  1. Usus halus

Usus kecil (halus) mempunyai tiga bagian :

· Duodenum, yang berhubungan langsung dengan lambung

· Jejenum atau bagian tengah dan

· Ileum

 

  1. Usus besar (kolon)

Kolon orang dewasa, panjangnya ± 125 – 150 cm atau 50 –60 inch, terdir dari :

· Sekum, yang berhubungan langsung dengan usus kecil

· Kolon, terdiri dari kolon asenden, transversum, desenden dan sigmoid.

· Rektum, 10 – 15 cm / 4 – 6 inch.

Fisiologi usus besar yaitu bahwa usus besar tidak ikut serta dalam pencernaan/absorpsi makanan. Bila isi usus halus mencapai sekum, maka semua zat makanan telah  diabsorpsi dan sampai isinya cair  (disebut chyme). Selama perjalanan didalam kolon (16 – 20 jam) isinya menjadi makin padat karena air diabsorpsi dan sampai di rektum

feses bersifat padat – lunak. Fungsi utama usus besar (kolon) adalah : Menerima chyme dari lambung dan mengantarkannya ke arah bagian selanjutnya untuk mengadakan absorpsi / penyerapan baik air, nutrien, elektrolit dan garam empedu. Mengeluarkan mukus yang berfungsi sebagai protektif sehingga akan melindungi dinding usus dari aktifitas bakteri dan trauma asam yang dihasilkan feses. Sebagai tempat penyimpanan sebelum feses dibuang.  Anus / anal / orifisium eksternal

Panjangnya ± 2,5 – 5 cm atau 1 – 2 inch, mempunyai dua spinkter yaitu internal (involunter) dan eksternal (volunter)

 

  1. 6.    Fisiologi Defekasi

Defekasi adalah pengeluaran feses dari anus dan rektum. Hal ini juga disebut bowel movement. Frekwensi defekasi pada setiap orang sangat bervariasi dari beberapa kali perhari sampai 2 atau 3 kali perminggu. Banyaknya feses juga bervariasi setiap orang. Ketika gelombang peristaltik mendorong feses kedalam kolon sigmoid dan rektum, saraf sensoris dalam rektum dirangsang dan individu menjadi sadar terhadap kebutuhan untuk defekasi. Defekasi biasanya dimulai oleh dua refleks defekasi yaitu :

 

  1. 7.       Refleks defekasi instrinsik

Ketika feses masuk kedalam rektum, pengembangan dinding rektum member suatu signal yang menyebar melalui pleksus mesentrikus untuk memulai gelombang peristaltik pada kolon desenden, kolon sigmoid, dan didalam rektum. Gelombang ini menekan feses kearah anus. Begitu gelombang peristaltik mendekati anus, spingter anal interna tidak menutup dan bila spingter eksternal tenang maka feses keluar.

 

  1. 8.      Refleks defekasi parasimpatis

Ketika serat saraf dalam rektum dirangsang, signal diteruskan ke spinal cord (sakral 2 – 4) dan kemudian kembali ke kolon desenden, kolon sigmoid dan rektum. Sinyal – sinyal parasimpatis ini meningkatkan gelombang peristaltik, melemaskan spingter anus internal dan meningkatkan refleks defekasi instrinsik. Spingter anus individu duduk ditoilet atau bedpan, spingter anus eksternal tenang dengan sendirinya. Pengeluaran feses dibantu oleh kontraksi otot-otot perut dan diaphragma yang akan meningkatkan tekanan abdominal dan oleh kontraksi muskulus levator ani pada dasar panggul yang menggerakkan feses melalui saluran anus. Defekasi normal dipermudah dengan refleksi paha yang meningkatkan tekanan di dalam perut dan posisi duduk yang meningkatkan tekanan kebawah kearah rektum.

Jika refleks defekasi diabaikan atau jika defekasi dihambat secara sengaja dengan mengkontraksikan muskulus spingter eksternal, maka rasa terdesak untuk defekasi secara berulang dapat menghasilkan rektum meluas untuk menampung kumpulan feses

 

 

 

 

 

GANGGUAN ELIMINASI URINE

Penyakit ginjal utamanya akan berdampak pada sistem tubuh secara umum. Salah satu yang tersering ialah gangguan urine. Gangguan eliminasi urine kemungkinan disebabkan : (Supratman. 2003)

  • Inkopeten outlet kandung kemih;
  • Penurunan kapasitas kandung kemih;
  • Penurunan tonus otot kandung kemih;
  • Kelemahan otot dasar panggul.

 

Beberapa masalah eliminasi urine yang sering muncul, antara lain :

  1. Retensi

Retensi Urine ialah penumpukan urine acuan kandung kemih danketidaksanggupan kandung kemih untuk mengosongkan sendiri. Kemungkinan penyebabnya :

  1. Operasi pada daerah abdomen bawah.
  2. Kerusakan ateren
  3. Penyumbatan spinkter.
  4. Tanda-tanda retensi urine :
  5. Ketidak nyamanan daerah pubis.
  6. Distensi dan ketidaksanggupan untuk berkemih.
  7. Urine yang keluar dengan intake tidak seimbang.
  8. Meningkatnya keinginan berkemih.

 

  1. Enuresis

Keluarnya kencing yang sering terjadi pada anak-anak umumnya malam hari. Kemungkinan peyebabnya :

  1.    Kapasitas kandung kemih lebih kecil dari normal.
  2. Kandung kemih yang irritable
  3.    Suasana emosiaonal yang tidak menyenangkan
  4. ISK atau perubahan fisik atau revolusi.

 

  1. Inkontinensis

Inkontinesia Urine ialah bak yang tidak terkontrol. Jenis inkotinensis

  1. a.      Inkontinensis Fungsional/urge

Inkotinensis Fungsional ialah keadaan dimana individu mengalami

inkontine karena kesulitan dalam mencapai atau ketidak mampuan untuk mencapai toilet sebelum berkemih.

Faktor Penyebab:

Kerusakan untuk mengenali isyarat kandung kemih.

  • Penurunan tonur kandung kemih
  • Kerusakan moviliasi,
  • depresi,
  • anietas,
  • Lingkungan
  • Lanjut usia.
  1. b.      Inkontinensia Stress

Inkotinensia stress ialah keadaan dimana individu mengalami pengeluaran urine segera pada peningkatan dalam tekanan intra abdomen.

 

Faktor Penyebab:

  • Inkomplet outlet kandung kemih
  • Tingginya tekanan infra abdomen
  • Kelemahan atas peluis dan struktur pengangga

 

  1. c.       Inkontinensia Total

Inkotinensia total ialah keadaan dimana individu mengalami kehilangan urine terus menerus yang tidak dapat diperkirakan.

Faktor Penyebab:

  • Penurunan Kapasitas kandung kemih.
  • Penurunan isyarat kandung kemih
  • Efek pembedahan spinkter kandung kemih
  • Penurunan tonus kandung kemih
  • Kelemahan otot dasar panggul.
  • Penurunan perhatian pada isyarat kandung kemih

 

Perubahan pola Frekuensi

Meningkatnya frekuensi berkemih karena meningkatnya cairan. Urgency, Perasaan seseorang harus berkemih. Disaria yaitu adanya rasa sakit atau kesulitan dalam berkemih. Urinari Suprei, keadaan yang mendesak dimana produksi urine sangat kurang

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

MASALAH ELIMINASI FECAL

  1. A.    Konstipasi

 

Konstipasi merupakan gejala, bukan penyakit yaitu menurunnya frekuensi BAB disertai

dengan pengeluaran feses yang sulit, keras, dan mengejan. BAB yang keras dapat

menyebabkan nyeri rektum. Kondisi ini terjadi karena feses berada di intestinal lebih lama, sehingga banyak air diserap.

 

Penyebabnya :

1)      Kebiasaan BAB tidak teratur, seperti sibuk, bermain, pindah tempat, dan lain-lain

2)      Diet tidak sempurna/adekuat : kurang serat (daging, telur), tidak ada gigi, makanan lemak dan cairan kurang

3)      Meningkatnya stress psikologik. Kurang olahraga / aktifitas : berbaring lama.

4)      Obat-obatan : kodein, morfin, anti kolinergik, zat besi. Penggunaan obat pencahar/laksatif menyebabkan tonus otot intestinal kurang sehingga refleks BAB hilang.

5)      Usia, peristaltik menurun dan otot-otot elastisitas perut menurun sehingga menimbulkan konstipasi.

6)      Penyakit-penyakit : Obstruksi usus, paralitik ileus, kecelakaan pada spinal cord dan tumor.

7)      Impaction,  merupakan akibat konstipasi yang tidak teratur, sehingga tumpukan feses yang keras di rektum tidak bisa dikeluarkan. Impaction berat, tumpukan feses sampai pada kolon sigmoid.

8)      Keadaan lemah, bingung, tidak sadar, konstipasi berulang dan pemeriksaan yang dapat menimbulkan konstipasi.

 

 

  1. Flatulens, Yaitu menumpuknya gas pada lumen intestinal, dinding usus meregang dan distended, merasa penuh, nyeri dan kram. Biasanya gas keluar melalui mulut (sendawa) atau anus (flatus). Hal-hal yang menyebabkan peningkatan gas di usus adalah pemecahan makanan oleh bakteri yang menghasilkan gas metan, pembusukan di usus yang menghasilkan CO2. Makanan penghasil gas seperti bawang dan kembang kol.

 

  1. Hemoroid, Yaitu dilatasi pembengkakan vena pada dinding rektum (bisa internal atau eksternal). Hal ini terjadi pada defekasi yang keras, kehamilan, gagal jantung dan penyakit hati menahun. Perdarahan dapat terjadi dengan mudah jika dinding pembuluh darah teregang. Jika terjadi infla-masi dan pengerasan, maka pasien merasa panas dan gatal. Kadang-kadang BAB dilupakan oleh pasien, karena saat BAB menimbulkan nyeri. Akibatnya pasien mengalami konstipasi.

 

 

 

 

 

 

 

PROSES KEPERAWATAN PADA PASIEN YANG MENGALAMI GANGGUAN

ELIMINASI

A. Pengkajian

1. Pola berkemih

Pada orang-orang untuk berkemih sangat individual

2. Frekuensi

Frekuensi untuk berkemih tergantung kebiasaan dan kesempatan. Banyak orang-orang berkemih kira-kira 70 % dari urine setiap hari pada waktu bangun tidur dan tidak memerlukan waktu untuk berkemih pada malam hari. Orang-orang biasanya berkemih : pertama kali pada waktu bangun tidur, sebelum tidur dan berkisar waktu makan.

3. Volume

Volume urine yang dikeluarkan sangat bervariasi.

4. Usia Jumlah / hari

  • Hari pertama & kedua dari kehidupan 15–60 ml
  • Hari ketiga–kesepuluh dari kehidupan 100–300 ml
  • Hari kesepuluh – 2 bulan kehidupan 250–400 ml
  • Dua bulan–1 tahun kehidupan 400–500 ml
  • 1–3 tahun 500–600 ml
  • 3–5 tahun 600–700 ml
  • 5–8 tahun 700–1000 ml
  • 8–14 tahun 800–1400 ml
  • 14 tahun-dewasa 1500 ml
  • Dewasa tua 1500 ml / kurang

Jika volume dibawah 500 ml atau diatas 300 ml dalam periode 24 jam pada orang dewasa, maka perlu lapor.

5. Pengkajian fisik

Pengkajian fisik memungkinkan perawat memperoleh data untuk menentukan keberadaan dan tingkat keparahan masalah eliminasi urin. Organ utama yang ditinjau kembali meliputi kulit, ginjal, kandung kemih dan uretra

 

  1. Diagnosa Keperawatan
  1. Perubahan dalam eliminasi urine berhubungan dengan retensi urine, inkontinensi dan enuresis
    1. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan adanya inkontinensi urine
    2. Perubahan dalam rasa nyaman berhubungan dengan dysuria
    3. Risiko infeksi berhubungan dengan retensi urine, pemasangan kateter
    4. Perubahan konsep diri berhubungan dengan inkontinensi
    5. Isolasi sosial berhubungan dengan inkontensi
    6. Self care defisit : toileting jika klien inkontinesi
    7. Potensial defisit volume cairan berhubungan dengan gangguan fungsi saluran urinary akibat
  2. Berhubungan dengan proses penyakit
    1. Gangguan body image berhubungan dengan pemasangan urinary diversi ostomy.
    2. Kurang pengetahuan berhubungan dengan keterampilan pemasangan diversi urinary ostomy
  1. Perencanaan & Intervensi

Tujuan :

  1. Memberikan intake cairan secara tepat, Intake cairan secara tepat, pasien dengan masalah perkemihan yang sering intake jumlah cairan setiap hari ditentukan dokter. Pasien dengan infeksi perkemihan, cairannya sering ditingkatkan. Pasien dengan edema cairannya dibatasi.
  2. Memastikan keseimbangan intake dan output cairan, mengukur intake dan output cairan. Jumlah caiaran yang masuk dan keluar dalam setiap hari harus diukur, untuk mengetahui kesimbangan cairan.
  3. Mencegah ketidakseimbangan cairan dan elektrolit
  4. Membantu mempertahankan secara normal berkemih.
  5. Mencegah kerusakan kulit
  6. Membantu pasien mempertahankan posisi normal untuk berkemih
  7. Memberikan kebebasan untuk pasien
  8. Mencegah infeksi saluran kemih.
  9. Memberikan bantuan pada saat pasien pertama kali merasa ingin buang air kecil Jika menggunakan bedpan atau urinal yakin itu dalam keadaan hangat.
  10. Memulihkan self esteem atau mencegah tekanan emosional
  11. Bila pasien menggunakan bedpan, tinggikan bagian kepala tempat tidur dengan posisi
  12. fowler dan letakkan bantal kecil dibawah leher untuk meningkatkan support dan kenyamanan fisik (prosedur membantu memberi pispot/urinal)
  13. Untuk anak kecil meningkatkan kontrol berkemih dan self esteem.

 

  1. IMPLEMENTASI

Tindakan secara umum

  • Tuangkan air hangat dalam perineum
  • Mengalirkan air keran dalam jarak yang kedengaran pasien
  • Memberikan obat-obatan yang diperlukan untuk mengurangi nyeri dan membantu relaks otot
  • Letakkan tangan secara hati-hati tekan kebawah diatas kandung kemih pada waktu berkemih
  • Menenangkan pasien dan menghilangkan sesuatu yang dapat menimbulkan kecemasan.

 

Tindakan hygienis

Untuk mempertahankan kebersihan di daerah genital Tujuannya untuk memberikan rasa nyaman dan mencegah infeksi

 

Tindakan spesifik masalah-masalah perkemihan

Retensi urin, membantu dalam mempertahankan pola berkemih secara normal, jika tejadi pada post operasi —- berikan analgetikà Kateterisasi urin

 

 

 

Inkontinensi

  • Menetapkan rencana berkemih secara teratur dan menolong pasien mempertahankan  pola eliminasi urin
  • Mengatur intake cairan, khususnya sebelum pasien istirahat, mengurangi kebutuhan berkemih
  • Meningkatkan aktifitas fisik untuk meningkatkan tonus otot dan sirkulasi darah, selanjutnya menolong pasien mengontrol berkemih
  • Merasa yakin bahwa toilet dan bedpan dalam jangkauannya
  • Tindakan melindungi dengan menggunakan alas untuk mempertahankan laken agar tetap kering
  • Untuk pasien yang mengalami kelemahan kandung kemih pengeluaran
  • manual dengan tekanan kandung kemih diperlukan untuk mengeluarkan urine
  • Untuk pasien pria yang dapat berjalan/berbaring ditempat tidur, inkontinensi tidak dikontrol dapat menggunakan kondom atau kateter penis.

Enuresis

Untuk enuresis yang kompleks, maka perlu dikaji komprehensif riwayat fisik dan psikologi, selain itu juga urinalisis (fisik, kimia atau pemeriksaan mikroskopis) untuk mengetahui penyebabnya. Mencegah agar tidak terjadi konflik kedua orang tua dan anak-anaknya Membatasi cairan sebelum tidur dan mengosongkan kandung kemih sebelum tidur / secara teratur.

 

Peningkatan kesehatan

  • Penyuluhan klien tentang masalah eliminasi urin
  • Meningkatkan perkemihan nirmal
  • Meningkatkan pengosongan kandung kemih secara lengkap
  • Pencegahan infeksi

 

Perawatan akut

  • Mempertahankan kebiasaan eliminasi
  • Obat-obatan
  • Kateterisasi
  • Pencegahan infeksi

 

Perawatan restorasi

  • Menguatkan otot dasar panggul
  • Bladder retraining
  • Melatih kebiasaan
  • Kateterisasi mandiri
  • Mempertahankan integritas kulit
  • Peningkatan rasa nyaman

 

 

 

  1. Evaluasi

Untuk mengevaluasi hasil akhir dan respon klien terhadap asuhan keperawatan, perawat mengukur keefektifan semua intervensi. Tujuan optimal dari intervensi keperawatan yang dilakukan ialah kemampuan klien untuk berkemih secara volumter tanpa mengalami gejalagejala ( misalnya urgensi, disuria, atau sering berkemih). Urin yang keluar harus berwarna kekuningan, jernih, tidak mengandung unsure-unsur yang abnormal, dan memiliki ph serta berat jenis dalam rentang nilai yang normal. Klien harus mampu mengidentifikasi factorfaktor yang dapat mempengaruhi perkemihan normal. Perawat juga mengevaluasi intervensi khusus, yang dirancang untuk meningkatkan fungsi berkemih normal dan mencegah terjadinya komplikasi akibat perubahan pada system perkemihan.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

  1. http://www.proses_pencernaan_makanan.html
  2. http://www.siklus_alami_tubuh_dalam_proses_pencernaan_makanan.html
  3. Perry, Potter. 2005. Fundamental keperawatan, edisi 4, volume 1. Jakarta : EGC

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Hello world!

Welcome to WordPress.com. After you read this, you should delete and write your own post, with a new title above. Or hit Add New on the left (of the admin dashboard) to start a fresh post.

Here are some suggestions for your first post.

  1. You can find new ideas for what to blog about by reading the Daily Post.
  2. Add PressThis to your browser. It creates a new blog post for you about any interesting  page you read on the web.
  3. Make some changes to this page, and then hit preview on the right. You can always preview any post or edit it before you share it to the world.